Didila Sari, Berjualan Sekaligus Melestarikan Kain Songket Padang
Jefri Van Novis, Bonita Tour Tiket Laris Bisnis Manis
Kadek Antari, Lukisan Unik Berbuah Cantik
Mohamad Bijaksana Junerosano, Tas Ramah Lingkungan Berdayakan Industri Rumahan
Odi Anindito, Mendirikan Gerai Kopi Mewujudkan Kecintaan Pada Negeri
Achmad Rofiq, Film Animasi Indonesia Karya Anak Negeri
Fauzan Hangriawan, Meningkatkan Kesejahteraan Peternak Lele
Rosnendya Wisnu Wardhana, Bangkitkan Kembali Kue Melayu Batam yang Hampir Punah
Jefri Van Novis, Berawal dari Sub Agen, Kini Miliki 53 Mitra Usaha
Saptuari Sugiharto, Merchandise Untuk Semua Ala Kedai Digital
Achmad Rofiq : Menuai Untung dan Prestasi dari Film Animasi
Andi Arham Bunyamin, CEO Kretakupa Printing : Bermula dari Puluhan Ribu, Kini Beromzet Ratusan Juta
Theodosius Surya Adhitama : Berbekal Kemauan Keras, Sukses Berbisnis Mesin Antrean
Odi Anindito, Mendirikan Gerai Kopi Mewujudkan Kecintaan Pada Negeri
Iwa Sumanto : Modal Ratusan Ribu, Kini Tembus Pasar Dunia
Andi Arham Bunyamin : Usaha Iseng Berbuah Omset Rp 250 juta
Ridwan Abadi : Sukses Batagor Bandung ala Jepang
Rosnendya Wisnu Wardhana : Sukses dengan Bingka Bakar
Ikrar Malaranggeng : Meraih Sukses dari Pembuatan Alat Musik Tradisional
Evi Marlina : Peluang dari Kerajinan Suku Anak Dalam
Odi Anindito, Mendirikan Gerai Kopi Mewujudkan Kecintaan Pada Negeri
Sabtu, 01 Desember 2012

Indonesia dikenal sebagai salah satu penghasil kopi terbaik di dunia. Ironisnya, masyarakat di Indonesia sendiri belum banyak yang mengenal bahwa berbagai merk kopi impor yang menjamur saat ini sebenarnya berasal dari Indonesia. Risau dengan kenyataan ini, Odi (33), sepulang belajar dari Australia, akhirnya mendirikan gerai kopi. Perlahan namun pasti, sejalan dengan meningkatnya apresiasi masyarakat terhadap kopi lokal gerai Coffee Toffee yang dikelolanya akhirnya berkembang pesat dan menjadi salah satu bukti kesuksesannya dalam mempopulerkan kopi lokal.    

ITULAH SEMANGAT yang dibawa Odi Anindito dalam mengenalkan kopi Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sen¬diri. “Semua bermula saat saya sedang kuliah di Australia. Untuk mengisi waktu dan menambah penghasilan, saya menyempatkan diri untuk magang di sebuah coffee shop. Disanalah saya menemukan berbagai fakta mengagumkan tentang kopi Indonesia yang mendunia,” ujarnya. Dari 31 jenis kopi yang ma¬suk dalam peringkat atas, 12 jenis diantaranya justru berasal dari Indonesia dan tergolong sebagai best seller. 
Berpijak dari fakta tersebut, setelah pulang dari Australia pada tahun 2003 Odi akhirnya memutuskan untuk berwirausaha, “Awalnya saya menjalankan bisnis IT, tapi pada tahun 2006 saya terpanggil menggeluti bisnis kopi.” tutur Odi. Bisnis IT ditinggalkan karena Odi melihat bahwa bisnis kopi memiliki peluang besar serta sesuai dengan passion yang dimilikinya. Ia membuka sebuah gerai coffee shop yang menggunakan konsep booth. Produknya pun dijual dengan harga yang terjangkau. “Saya membuka gerai kopi di beberapa lokasi di depan minimarket. Namun sayangnya pada saat itu penjualan kurang bagus sehingga saya memutuskan untuk menutup gerai tersebut pada tahun 2007 dan hijrah ke Jakarta.” ujar Odi.

Di Jakarta, usaha ini ia lanjutkan dengan konsep berbeda dan ternyata hasilnya memuaskan. “Konsep awal yang dulunya berupa booth, akhirnya pada tahun 2008 saya kembali membuka gerai coffee shop dengan konsep mini kafe berkapasitas 4-5 meja dengan modal Rp 100 juta. Ter¬nyata kon¬sep tersebut mendapat sambutan yang po¬sitif,” kata Odi.  Menurutnya, kon¬sep independent coffee shop sangat pas, karena pengunjung dapat berkumpul sembari menikmati kopi tanpa diganggu aktivitas apapun seperti berbelanja ataupun jalan-jalan. Selama kurang dari satu tahun ia  berhasil membuka 3 gerai Coffee Toffee di Jakarta.

Pada tahun 2010, Odi kembali ke Surabaya dan mendirikan gerai Coffee Toffee di daerah Klampis, Surabaya. Dalam rentang waktu yang singkat Odi mampu mengembangkan usaha bisnisnya. Kuncinya ada pada inovasi sehingga usahanya tetap sustain. Dengan motto: We blended with our love, passion and enthusiasm, saat ini Coffee Toffee sudah memiliki 120 gerai yang tersebar di Indonesia.

Memaksimalkan Budaya Lokal
Dalam mengembangkan usahanya, Coffee Toffee menawarkan kon¬sep waralaba. Dasarnya adalah kecocokan karakter mitra dengan nilai perusahaan, sehingga pada akhirnya tercipta  hubungan bisnis harmonis antara mitra dengan pewaralaba. Odi tidak ingin sebuah gerai hanya bertahan selama 5 tahun kemudian tutup. Itulah sebabnya, prinsip yang di¬bangun bersama mitra menjadi penting, bukan semata-mata dinilai dari besaran investasinya.

Coffee Toffee juga menerapkan konsep under management, ya¬itu siapa saja yang mempunyai mo¬dal bisa berinvestasi sedangkan pengelolaan gerainya dilaksanakan oleh manajemen Coffee Toffee dengan sistem profit sharing. Artinya, bila menguntungkan hasilnya dibagi dua dan sebaliknya, apabila rugi maka ditanggung bersama. Disamping dua sistem di atas, ada beberapa gerai yang merupakan own store kepemilikan  Coffee Toffee.

Semua kopi yang ada di gerai Coffee Toffee adalah produk Indonesia yang memiliki kualitas premium. Dengan konsep Go Local, Our Way, Coffee Toffee berupaya memaksimalkan penggunaan sumber daya Indonesia terbaik. “Semua kopi yang disajikan merupakan kopi lokal asal Indonesia, misalnya Java Mocca, Toraja Kalosi, Bali Batukaru, Sumatra Gayo dan Sumatra Linthong. Biji-biji kopi tersebut adalah biji kopi yang sangat dikenal di dunia,” jelas Odi. Untuk merasakan kenikmatannya di gerai Coffee Toffee, pe¬ngunjung tidak perlu membayar mahal. Selain itu, di gerai Coffee Toffee juga di sediakan biji kopi yang  tidak digiling untuk menjaga rasa, dan ketika ada yang berminat, biji kopi dapat digiling untuk kemudian dibawa pulang.

Penghargaan Bank Mandiri
Bisnis yang didukung dengan konsep matang tersebut telah membuat Odi Anindito akhirnya terpilih menjadi pemenang  pertama pada ajang Wirausaha Muda Mandiri 2011 kategori mahasiswa program pascasarjana dan alumni di bidang usaha boga.  

Berkat penghargaan ter¬sebut, Coffee Toffee berkesempatan untuk mendapatkan berbagai bentuk dukungan dari Bank Mandiri, diantaranya dalam bentuk keikutsertaan dalam ber¬bagai ajang pameran tingkat nasional maupun bantuan publikasi di media cetak maupun elektronik. Hal inilah yang menjadi kekuatan dalam mengampanyekan Coffee Toffee kepada masyarakat penikmat kopi di Indonesia. Apalagi masih banyak orang Indonesia yang rela membayar mahal untuk menikmati secangkir kopi terbaik yang dijual di gerai kopi terkenal, padahal sebenarnya kopi tersebut berasal dari negeri kita sendiri. 

Bentuk lain dari dukungan yang diberikan Bank Mandiri kepada Coffee Toffee adalah kesempatan untuk mendapatkan pelatihan serta bimbingan dari para motivator terkenal, tak terkecuali pertemuan dengan beberapa CEO perusahaan ternama. Kesempatan ini yang menurut Odi sangat berharga, karena ia bisa  belajar dari banyak orang besar. 

Cita-cita merentangkan sayap bisnis ke luar negeri memang ada. Namun demikian, saat ini Odi masih memprioritaskan pengembangan bisnis Coffee Toffee di dalam negeri terlebih dulu.  “Ceruk pasar dalam negeri yang saat ini ada masih sangat besar dan belum tergarap secara maksimal,”tuturnya.  

Kiat Sukses
  • Keunggulan dari kedai kopi ini adalah pada harga dan pelayanan. Odi mengklaim  harga produknya 50% lebih murah dari harga yang ditawarkan gerai kopi lain.
  • Menawarkan biji kopi yang merupakan campuran antara biji kopi Java – Mocha dan Toraja Kalosi yang sudah terkenal akan kekuatan rasa dan aromanya.
  • Dalam menjalankan usahanya dilandasi oleh  love, passion, enthusiasm.

Jejak Usaha
  • Awal mula tercetusnya ide bisnis Coffee Toffee adalah ketika Odi pulang dari Melbourne, Australia, negara tempat ia bersekolah pada tahun 2005 lalu. Di negeri Kanguru tersebut Odi bekerja paruh waktu sebagai barista (ahli meramu minuman di bar atau kafe)  di kedai kopi. Saat itulah ia sadar  bahwa 12 dari 31 kopi yang disajikannya ternyata berasal dari Indonesia.   
  • Tahun 2006 Odi bersama istri pun sepakat untuk membuka sebuah gerai kopi di beberapa lokasi di depan minimarket. Ketika itu modal awal mereka hanya Rp 5 juta.
  • Dalam kurun waktu 2 tahun, Coffee Toffee justru mengalami kebangkrutan pada tahun 2008. Penipuan yang dilakukan oleh mitra bisnisnya membuat seluruh modal usahanya habis. Bahkan mobil serta rumah yang mereka miliki pun digunakan untuk melunasi hutang. 
  • Evaluasi tentang kesalahan sistem dan usahanya serta perbaikan manajerial dijalnkan mereka. Tak ingin gagal lagi, pasangan ini sepakat untuk membentuk Coffee Toffee sebagai badan hukum. Konsep kerjasama kemitraan dipilih sebagai bangkitnya Coffee Toffee.
  • Memilih memulai langkah barunya di Jakarta, pasangan suami istri ini sepakat untuk fokus dan membagi tugas. Sang istri (Rakhma) bertanggungjawab mencari informasi tentang sistem kemitraan dan menajemen, bahkan ia pun rajin mengikuti pelatihan usaha kecil menengah yang diselenggarakan oleh beberapa lembaga pemerintahan.
  • Merasa telah mampu menaklukan Jakarta, Odi dan Rakhma mencoba peruntungannya kembali di kota asal mereka, Surabaya, sekaligus melakukan ekspansi ke daerah-daerah lainnya. Terbukti kini 120  gerai Coffee Toffee telah tersebar di Pulau Jawa, Kalimantan dan Sulawesi, dengan omzet miliaran rupiah setiap bulannya.